Wednesday, January 19, 2011

PEMUDA ISLAM & AMANAH DAKWAH

Posted on 15 September 2010 by ammaryusop

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُمْ بِالْحَقِّ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى

Kami ceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk”

(Surah al-Kahfi 18: 13)

Kaum muda merupakan lapisan masyarakat yang paling kritis. Mereka memiliki wawasan ke depan dan tidak pernah puas dengan kondisi yang ada. Sikap pemuda sentiasa idealis, penuh cita-cita dan harapan. Baik terhadap sesuatu yang baik ataupun yang buruk.

Lantaran itu pula anak-anak remaja, bakal pemuda, menjadi sasaran orang-orang yang ingin merubah kondisi suatu masyarakat menjadi buruk. Mereka dihidangkan dengan kebatilan yang menjadikan mereka jauh dari agama ALLAH. Mereka diberikan racun melalui media massa, berupa televisyen, radio, majalah, filem-filem, komik, novel dan sebagainya. Itulah racun sekularisme, pembaratan serta penurunan moral dengan berbagai bentuknya.

Maka lihatlah anak-anak remaja yang membuat masalah di tengah-tengah masyarakat. Mereka hidup untuk mengganggu orang lain, bermabuk-mabukan, berpesta dan berdisko, berpeleseran di waktu malam tanpa tujuan dan lain-lain. Keadaan ini disedari atau tidak merupakan hasil perusakan terhadap generasi muda melalui media massa yang terancang. Yang lebih berbahaya adalah perusakan pola fikir melalui orang-orang yang mengaku dirinya intelek, yang rata-rata lulusan barat yang canggih dengan ilmu dan pengetahuan serta falsafah yang membingungkan. Dan sasaran mereka ini pun adalah para pemuda, kerana mereka pun ingin diikuti oleh para pemuda. Mereka-mereka itu sebenarnya generasi muda yang berpotensi. Hanya saja situasi lingkungan yang buruk dan menyesatkan, membuatkan mereka hanyut dibawa program syaitan dan iblis.


Dakwah Islam dan Pemuda

Perubahan masyarakat dari buruk menjadi baik, dari jahiliyyah menjadi Islam merupakan sasaran dakwah Islam. Islam merupakan agama yang mengajak umatnya berfikir dinamis, kritis dan kreatif… tapi bukan untuk merusak. Islam tidak menyetujui sikap jumud (statik) dalam segala hal. Kerana sifat dakwah Islam seperti di atas, maka dakwah ini mudah diterima dan dicerna oleh kalangan muda… tidak membingungkan dan meragukan.

Semangat dan cita-cita yang tinggi para pemuda hanya dapat ditampung dan disalurkan oleh Islam. Sebab Islam adalah ajaran ALLAH yang sempurna, tanpa cacat dan cela. Islam adalah agama yang mengajak manusia kepada kebaikan di dunia dan akhirat.

Ajaran Islam mengarahkan dan membimbing pemuda untuk beribadah, mengabdi, dan berbakti kepada Dzat yang Maha Tinggi, Agung dan Mulia… iaitu ALLAH SWT. Islam melatih mereka agar selalu menghubungkan diri kepada Penguasa Tunggal alam semesta. Dengan ini, mereka menjadi orang-orang yang akan menyebarluaskan rahmat dan kasih sayang ALLAH ke tengah-tengah umat manusia. Islam tidak rela para pemuda yang berpotensi itu terjerumus dalam kebejatan moral yang akan membuat mereka menjadi musuh ALLAH dan sampah masyarakat.

Tidak menghairankan, ketika Islam muncul, para pendukungnya kebanyakkan terdiri dari kaum muda yang haus akan kebenaran dan keadilan. Rasulullah SAW selama 13 tahun pertama berdakwah di Makkah tidak banyak menghasilkan jumlah pengikut. Kerana penduduk Makkah kebanyakan orang-orang tua yang sangat kuat memegang tradisi dan adat istiadat jahiliyyah.

Tetapi ketika Islam di bawa ke Madinah, sambutan meriah dan positif pun mengalir bagai ombak yang bergulung. Penduduk Madinah melihat Islam sebagai atauran hidup yang benar. Hati mereka diterangi cahaya petunjuk ALLAH. Maka dengan ikhlas mereka tinggalkan semua adat kebiasaan jahiliyyah dan merubahnya menjadi Islam. Mereka tukar kekufuran dan kedurhakaan dengan iman dan ketaatan. Hal ini disebabkan penduduk Madinah umumnya terdiri dari kaum muda.

Di sisi lain, Rasulullah SAW pun menjadikan pemuda sebagai anasir taghyir (unsur-unsur perubah). Mereka dilatih dan dibimbing untuk menjadi pemimpin dan juru dakwah. Mereka dibentuk menjadi kader-kader Islam yang tangguh dan cekal. Mereka antara lain Ali bin Abi Talib, Mus’ab bin Umair, Sa’ad bin Abi Waqash, Zaid bin Haritsah, Umar bin Khattab, Usamah bin Zaid, juga kebanyakan para sahabat Nabi.

Sebagai contoh, da’ie dan duta Islam pertama yang diutus Rasulullah SAW di kota Yathrib adalah Mus’ab bin Umair. Dahulunya, dia adalah pemuda yang perwatakan kemas dan selalu berpakaian cantik. Setelah menerima Islam dan dikader Rasulullah SAW, Mus’ab berubah menjadi pemuda sederhana, tetapi aktif di jalan dakwahdan jihad Islam. Sehingga wafatnya Mus’ab, Rasulullah menitiskan air matanya melihat Mus’ab yang dahulunya mewah, hanya dikafani kain yang buruk. Beruntunglah Mus’ab sebagai pemuda dakwah yang telah menjalankan amanahnya.

Kendatipun masih muda belia, prestasi Mus’ab dalam dakwah sangat hebat. Dalam tempoh waktu kurang dari setahun, dia berjaya mengIslamkan kurang lebih 70 orang penduduk Yathrib. Mereka itulah yang datang kepada Rasulullah SAW untuk berbai’ah (berjanji setia sehidup semati) di bukit Aqabah.

Sifat Pemuda Dakwah

Dengan pemuda sebagai hujun tombak untuk dakwah, maka Islam pun meluncur bagai anak panah. Potensi tenaga muda mereak diarahkan untuk hal yang positif dan membangun (jiwa Islam), iaitu menegakkan DinuLLAH. Al-Quran mengambarkan pemuda yang aktif dalam dakwah Islam pada kisah Ashhabul Kahfi.

Kami ceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk; dan Kami telah meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri lalu mereka berkata: “Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran”. (Surah al-Kahfi 18: 13 – 14)

Dari ayat yang mulia ini dapat kita fahami bahawa para pemuda dakwah memiliki tiga karakter utama yang mendasar, iaitu:

1. Iman kepada RABB mereka (ALLAH)

Mereka merupakan pemuda-pemuda yang meyakini ALLAH, Rasul, Malaikat, Kitab, Hari Akhir dan Qadha dan Qadar. Nilai keimanan pemuda jauh lebih tinggi dari nilai keimanan orang yang sudah tua. Sebab para pemuda beriman di tengah-tengah gejolak nafsu muda yang masih berkobar, sementara orang-orang yang sudah tua melakukan ketaatan tanpa halangan kerana sudah mendekati akhir hayat.

Para pemuda dakwah sentiasa meningkatkan dan mempertahankan iman yang menyala dalam hati mereka. Mereka tidak rela sedikitpun iman itu berubah atau berkurang. Mereka berupaya menghidupkan api iman ini di tengah-tengah masyarakat. Kerana menyedari bahawa manusia tanpa iman tiada nilainya di sisi ALLAH.

2. Selalu mengikuti petunjuk ALLAH

iaitu para pemuda yang tahu arah perjalanan dan sentiasa berjuang menegakkan kebenaran denagn petunjuk bimbingan ALLAH. Mereka selalu berpegang teguh kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah sebagi hidayah ALLAH yang diyakini akan menyelesaikan segal persoalan dengan adil dan bijaksana. Mereka ingin masyarakat diatur oleh Pencipta alam semesta dan tidak diatur oleh mereka sendiri atau dikendalikan oleh hawa nafsu segolongan manusia tertentu.

3. Bersikap Furqan

Para pemuda dakwah mampu membedakan mana yang haq (benar) dan mana yang batil (salah). Mereka mengerti betul, mana yang membawa keimanan dan Islam dan mana yang membawa kekufuran dan kesesatan. Setelah itu, mereka menolak segala hal yang membawa kepada kekufuran dan menerima keimanan dengan penerimaan yang total. Sikap furqan merupakan pancaran keimanan dan kefahaman terhadap TauhiduLLAH yang diajarkan Islam. Mereka meyakini bahawa ALLAH adalah satu-satunya sumber hidup yang harus ditaati dan sumber ilmu agar diri tidak merasa sombong serta dijadikan tujuan akhir. Beserta itu, mereka menolak hak ALLAH ini diberikan pada selain ALLAH.

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqaan dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa) mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (Surah al-Anfaal 8: 29)

Selain itu, beberapa karakter yang lain juga menjadikan para pemuda mampu untuk mengemban tugas dakwah. Di antaranya:

4. Bersikap kritis menghadapi masyarakat

Para pemuda dakwah mengerti betul kondisi masyarakat yang menjadi medan dakwahnya. Mereka tahu bagaimana menghadapi situasi itu secara benar dan kritis. Kekritisan mereka tidak menjadikan mereka anarkis atau membuat mereka ekstrim. Mereka memahami jalan menuju perubahan umat dan bekerja untuk itu secara hati-hati dan teliti.


5. Berbeda dalam prinsip dan sikap hidup, tetapi bergabung di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat

Para pemuda dakwah menyedari kekeliruan yang ada pada masyarakat dan sanggup untuk menghindarkan diri mereka dari kekeliruan tersebut. Sementara mereka tetap hidup dan bercampur di tengah-tengah masyarakat itu dengan prinsip dan akhlaq yang berbeda. Mereka tidak tertipu dengan kondisi masyarakat yang membuat-buat kedustaan terhadap agama ALLAH. Hal ini tampak dalam kenyataan mereka di ayat berikut:

Kaum kami ini telah menjadikan selain Dia sebagai tuhan-tuhan (untuk di sembah). Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka?) Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah? (Surah al-Kahfi 18: 15)

Akhirul kalam, Imam As-Syahid Hassan al-Banna pernah menyatakan bahawa umat Islam dewasa ini tidak ada lagi mempunyai kekuatan. Sumber alam yang ada di bumi umat Islam semuanya habis terkuras oleh tangan-tangan asing. Kualiti umat Islam bagaikan buih-buih di lautan walaupun mereka ramai. Tapi ingatlah, bahawa ada satu kekuatan tersembunyi dari tubuh umat Islam iaitu para pemuda (as-Syabab). Bangunlah wahai pemuda! Dakwah amat memerlukan jiwa-jiwa yang cekal untuk mengembannnya. Kamu amat diperlukan untuk mengembalikan umat Islam dari kehinaan kepada kemuliaan! Jadilah junduLLAH yang akan memperjuangkan agama ALLAH hingga akhir hayatmu seperti Mus’ab bin Umair atau Zaid bin Khattab.

Tuesday, January 18, 2011

BLOG KAMSIS PTSS

SALAMUALAIKUM WARAHMATULLAH

MAKLUMAN BUAT SEMUA, KAMSIS PTSS MEMPUNYAI BLOGNYA SENDIRI.....

ALAMAT : kamsisptss.blogspot.com

MOGA IANYA DAPAT MEMBERI SEDIKIT SUMBANGAN MELAHIRKAN MODAL INSAN YANG BERGUNA KEPADA AGAMA BANGSA DAN NEGARA

PENGETUA KAMSIS.

Coretan Santai : Jiran Dari Syurga atau Neraka?




Oleh

Zaharuddin Abd Rahman

www.zaharuddin.net

Neighbours_From_Helllogo

Nabi Muhammad s.a.w amat kerap mengingatkan kita perihal jiran sehingga ada para sahabat yang menyangka jiran boleh mewarisi harta pusaka. Selain itu, baginda juga ada memberitahu bahawa antara punca kesejahteraan seseorang insan adalah mendapat kenderaan yang baik, isteri yang solehah dan jiran yang baik. Mengapa begitu penting peranan jiran?

Nabi s.a.w bersabda :

مِنْ سَعَادَةِ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ الْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ وَالْجَارُ الصَّالِحُ وَالْمَرْكَبُ الْهَنِيُّ

Ertinya : Antara sumber kebahagian dan kesejahteraan seseorang Muslim, adalah mendapat rumah yang luas, jiran yang baik dan kenderaan yang selesa (Riwayat Ahmad, At-Tabrani & Ibn Hibban ; Ibn Hibban, Albani menilainya sebagai sohih )

Saya tidak ingin mengulas berkenaan rumah yang luas kecuali sekadar mengingatkan erti ‘luas’ itu tentunya merangkumi fizikal dan juga isi rumah dari sudut pengisian spiritualnya. Hari ini, terdapat banyak rumah yang luas saiznya tetapi dihuni oleh manusia bermasalah serta merasa sempit yang amat. Masing-masing merasa sempit dan sesak dada disebabkan sikap dan sifat mereka sendiri yang gersang dari nilai ruhaniyah dan amalan Islam.

KENDERAAN SELESA

Kenderaan yang selesa, khususnya di zaman nabi dahulu terdiri dari kuda-kuda terpilih merupakan satu kelebihan, bukan sahaja kepada kerja ‘fi sabilillah’ malah juga tugasan seharian pemiliknya. Sehingga kuda-kuda terpilih dan terlatih ini disebutkan sebagai fitrah manusia untuk mencintainya sebagaimana firman Allah :

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاء وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللّهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

Ertinya : Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, iaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). ( Al-Imran : 14)

Terdapat ramai ulama yang menafsirkan erti kuda terlatih dan terpilih serta kuat tersebut kepada kenderaan yang sesuai di zaman masing-masing. Justeru di zaman kita, kenderaan yang mungkin boleh menyamai fungsi kuda adalah kereta-kereta yang baik. Tentunya kereta yang elok lagi selamat memberikan lebih kerehatan kepada pemiliknya untuk bergerak ke sana dan kemari.

JIRAN YANG BAIK.

Amat benar, jiran merupakan satu elemen masyarakat yang amat penting dalam membentuk kerehatan jiwa, fizikal dan mental. Di zaman ini, walaupun semua kita menginginkan jiran yang baik, namun disebabkan hambatan kewangan, faktor memilih jiran yang baik sudah kurang mampu diambil kira di setiap kali kita ingin membeli sesebuah rumah.

Apa yang menjadi penilaian asas kini adalah harga, lokasi, bentuk, luas dan status tanahnya ( freehold atau lease hold). Tentunya, budi bicara jiran sukar untuk dinilai hanya dengan menjeling-jeling ke rumah halaman rumahnya atau sekali dua bertegur sapa. Hasilnya, ramai di antara kita terpaksa mengabaikan ‘checklist’ jiran yang baik dan hanya mampu pasrah agar jiran yang telah atau akan berada di sebalah dan sekitar kita adalah jiran yang baik.

JIRAN DI UK, NEGATIF & POSITIF

Sudah beberapa kali saya sekelaurga mendapat jiran yang bermasalah, teringat ketika menyewa rumah di Puchong Perdana. Jiran depan dan kiri kanan amat menyakitkan. Tiadalah sempat untuk dikongsikan dalam coretan ringkas ini.

Apa yang ingin dikongsikan adalah jiran di rumah sewa kami di Leicester, United Kingdom. Inshaallah rumah yang bakal saya tinggalkan sebulan dua lagi. Alhamdulillah.

Jiran di sebelah kiri tidak membawa sebarang masalah, mereka berbangsa India tetapi begitu pembersih orangnya dan lamannya sentiasa kemas dan teratur. Mereka bersifat orang bandar yang buat kerja masing-masing dan hanya sekali sekala menegur kami sekeluarga sepanjang hampir 2 tahun berjiran.

Jiran di sebelah kanan adalah cerita ‘pahit’ kami. Merupakan orang tempatan (British) dan mempunyai 3 orang anak.

MASALAH SATU

Tanda masalah mereka sudah dapat dilihat sejak kami baru menjejakkan kaki ke rumah sewa terbabit, namun tidak dijangka tekanan akan berterusan. Masalah pertama yang dikenalpasti adalah ketika rumah sewa ini kosong, mereka rupanya ‘mencuri’ line aerial television di rumah yang kami baru sewa ini. Hal ini hanya disedari apabila technician Virgin Media, UK datang untuk memasang talian internet dan tv di rumah kami. Line tersebut dengan segera diputuskan dan technician berbangsa English tersebut kelihatan sempat menegur jiran sebelah sewaktu menanggalkan kabel mereka.

KEDUA

Masalah kedua yang berterusan sehingga artikel ini ditulis adalah pagar kayu di belakang rumah sewa kami, yang sengaja dibocorkan oleh jiran sebelah kerana membiarkan anjing mereka membuang najis. Mungkin sejak sebelum kami memasuki rumah ini, telah diajar dua ekor anjing mereka untuk membuang segala jenis najis mereka di halaman belakang rumah sewa ini. Lantaran itu, tabiat itu masih ingin ditersukan walau rumah sewa ini telah dihuni oleh kami.

Lebih teruk dari itu, anjing mereka juga amat kerap membuat bising dan ‘garang’ pula, pantang melihat kami keluar sebentar ke laman belakang, pasti disalak dan adakalanya mengacah-acah untuk mengejar kami.

Ada anak-anak warga Malaysia di Leicester dikejar sewaktu bermain di belakang rumah kami.

Sejak dari itu, menjadi sebahagian ‘jihad nafsu’ bagi saya untuk menguruskan laman belakang, mengumpul dan menimbus najis-najis yang bertebaran. Adakalanya geram juga rasa ingin mencampakkan semua najis terkumpul ke rumah mereka.

Pelbagai usaha cuba dilakukan, bermula dengan percubaan berbincang dengan mereka, namun sebarang perbincangan dengan isteri jiran pasti hanya akan menaikan amarah disebabkan justifikasi pendek akal yang diberikannya.

Sebagai contoh, bila diminta agar jangan membiarkan anjing mereka memasuki laman rumah kami, dikatanya:

“anjing kami bebas untuk pergi ke mana yang disukainya”.

Bila dikatakan mengapa asyik terdapat lubang di pagar kami, dijawabnya :

“itu pagar kami, suka hati kami untuk membocorkannya“, lalu mereka mendakwa anak-anak penyewa lama yang memecahkan pagar mereka dan sebagai balasan dibiarkan anjing mereka membuang najis di laman kami.

Berusahalah juga pada mulanya untuk kami selaku penyewa baru menuntut jiran yang pelik ini untuk menuntut sebarang ganti rugi dari pemilik rumah dan bukan menyusahkan kami selaku penyewa baru.

“aku sudah menghubungi pemilik tetapi dia tidak memberi respond” kata suami jiran sebelah yang lebih ok berbanding isterinya.

“beginilah, kalau engkau inginkan pagar dibaiki, engkau minta tuan rumah beli dua papan pagar baru dan aku selaku kontraktor boleh memasangnya dengan harga murah iaitu £ 50 sahaja” kata suami jiran yang sememangnya seorang builder, mencadangkan penyelesaian. Tapi jelas cuba mengaut keuntungan dari konflik pagar ini.

Tiba-tiba, selang beberapa minggu, berjaya dibuktikan melalui agen dan City Council bahawa pagar yang dipecahkan itu sebenarnysa milik rumah sewa kami. Tatkala mengetahui berita itu, jiran ini senyap sunyi. Ternyata mereka memecahkan pagar kami yang disangka pagar mereka.

Tapi buruknya perangai mereka, masih enggan membetulkannya. Terpaksalah saya mendesak tuan rumah membeli saja pagar baru dan sama ada mengupah orang memasangnya atau memberikan kepada jiran tadi dengan bayaran.

Selang beberapa minggu, dua keping pagar baru sampai, dan rupanaya tuan rumah beralah dan membenarkan jiran memasangnya dengan bayaran terus kepada mereka. Gembiralah agaknya jiran ini, masakan tidak, memecahkan pagar kami dan kemudian mendapat bayaran untuk memasangnya pula.!

Alhamdulillah, lega kami sudah boleh menggunakan ruang laman di belakang rumah.

Namun kelegaan itu tidak panjang.

Pagar bocor lagi, kali ini di tempat lain dan anjing mereka masih masuk. Bila ditegur, si isteri menjawab :-

“bukan kami yang lakukan”

Padahal terang-terang sama ada mereka atau anak mereka yang lakukan, kerana kami sekeluarga sukar menggunakan laman belakang rumah disebabkan dipenuhi najis anjing mereka dan sentiasa disalak.

Pelbagai jalan cuba dicari untuk menyelsaikan masalah anjing cerooh kawasan. Namun di UK, anjing ditatang begitu mulia dan mendapat tahap penghomratan seperti manusia. Malah anjing amat istimewa bagi mereka. Justeru, amat sukar bertindak. Di sebuah halaman pihak berkuasa, apabila ditanya maslaah ini, hanya memberi nasihat:

“jika anjing masuk ke kawasan rumah kamu dan menyalak bising, tandanya kamu perlu menjadi rakan kepada anjing terbabit”.

Setelah cuba berusaha mencari jalan terbaik menyelesaikannya, akhirnya, dapat juga dihubungi ‘dog warden’ dan mengadu masalah. Sesudah itu, saya difahamkan dog warden telah menghantar surat amaran kepada jiran, dan jika anjing mereka menceroboh kawasan rumah kami lagi, mereka akan didenda.

Situasi pulih sekitar 1-2 bulan, kemudian pagar yang ditutup, bocor pula di tempat lain. Saya cuba mencari papan-papan tambahan untuk menutup lubang-lubang yang dibuat. Namun setiap kali di tutup setiap kali itu jugalah tempat bocor baru dibuat.

Begitulah keadaan berlalau sepanjang dua tahun, ada pulih seketika setiap kali kami menutup lubang yang dibuat.

TOLERAN ATAU GADUH?

Tatkala itu, terfikir apakah tindakan yang terbaik untuk dilakukan, adakah masih ingin menunjuk sikap lembut? Niat asal ingin memaparkan tingginya hemah dan toleransi muslim. Namun terfikir adakah ia wajar atau lebih baik bertukar sifat kepada ‘brutal’ atau ‘izzah’ ke atas orang kafir lalu melawan dengan kaedah keras?.

Sukar ..

Bimbangkan keselamatan keluarga disebabkan kerana saya kerap ke luar kawasan dan luar Negara. Mereka pula mempunyai kumpulan pembenci muslim di sini. Justeru, terpaksa dibatalkan sebarang tindakan yang boleh meningkatkan ketegangan dan mengundang masalah lain, khususnya kepada keluarga.

Sebagai alternative, cara ‘offensive’ yang secara tidak langsung digunakan, saya mula membeli beberapa bahan gel kimia berbau kuat yang dibuat khas untuk menghalau anjing. Gel tersebut diletakkan di sekitar lubang pagar, dengan harapan anjing tidak boleh melintasinya. Selain gel, racun-racun tikus juga ditabur berdekatan lubang di sebelah kawasan rumah kami. Ia bertujuan meracun tikus yang memang ada sedikit di belakang rumah kami dan mungkin juga boleh mengacah jiran sebelah agar menjauhkan anjing mereka dari kawasan rumah kami, bimbang memakan racun tikus yang ditabur.

Malangnya anjing masih masuk khususnya apabila semua gel dan racun tikus terbabit ditutupi oleh salji yang turun. Pun begitu, cara tersebut telah berjaya mendapat sedikit perhatian jiran, lalu mereka kelihatan menutup lubang-lubang yang ada.

Namun seperti biasa, lubang baru akan wujud lagi, tidak pasti siapa yang membuatnya, sama ada jiran itu sendiri kerana tidak mahukan halaman belakang rumah mereka dipenuhi najis anjing mereka, atau ia dilakukan oleh anak-anak lelaki mereka yang ‘kurang ajar’.

MAIN BOLA PULA

Anak lelaki mereka juga dengan selambanya bermain bola di tengah-tengah jalan dan memenuhkan kereta kami dengan cap bola berlumpur mereka. Bila ditegur, dengan segera si ibu keluar dan menjawab :

“’kamu letak kereta di tempat awam maka kenalah”

Bayangkan betapa peliknya jawapannya..seolah-olah semua kereta jika diletakkan di tempat awam, maka boleh dihentam sesuka hati oleh bola mereka.

Saya menjawab “jika demikian mengapa sebuah lagi kereta saya di dalam kawasan 'parking' saya juga terkena cap-cap bola mereka. Tolonglah jadi orang bertamadun sikit”.

Dia hanya senyap. Tetapi anaknya terus bermain dihari-hari berikutnya dan minggu-minggu berikutnya. Demikianlah..

KUMPULAN PEMBENCI ISLAM

Beberapa bulan yang lepas, di Bandar Leicester, dianjurkan satu demonstrasi membenci orang Asia dan Islam sekaligus, ia dianjurkan oleh English Defence League (EDL). Banyak pengumuman di media meminta orang Islam agar tidak keluar ke City Center bagi mengelakan sebarang pergaduhan.

Kami hanya duduk di rumah tetapi, anak-anak jiran kelihatan tidak puas hati dan mengetuk-mengetuk pintu rumah kami dan membaling tin-tin minuman ke pintu rumah kami.

Dapat juga kami menghalau mereka dan merampas tin-tin yang digunakan.

POSITIF DALAM NEGATIF

Itu adalah sedikit dari banyak kisah bersama jiran yang buruk. Dari banyak-banyak kisah sakit hati yang cuba kami sabar itu. Pun begitu, ada satu jasa terbesar mereka kepada saya secaya tidak langsung.

Perangai buruk mereka menyebabkan saya lebih motivasi untuk menyiap tesis PhD saya secepat mungkin. Itulah sahaja pilihan yang ada. Berpindah rumah adalah sukar, khususnya untuk mendapatkan rumah yang berdekatan dengan sekolah anak-anak. Tambahan pula setiap kali niat ingin berpindah itu membuak, pastinya tiada rumah di sekitar ini yang ‘available’ untuk disewa.

Tatkala itu, saya sedar, cara terbaik untuk menamatkan masalah ini adalah menyudahkan phd dan balik ke Malaysia.

Alhamdulillah, setakat dua minggu ini, kelihatan anjing-anjing mereka tidak lagi menceroboh rumah kami, dan saya pula telah berjaya menamatkan penulisan dan hanya dalam masa menunggu viva tesis PhD ini. InshaAllah dalam dua bulan lagi, kami akan keluar dari rumah ini dan pulang ke Malaysia.

ITULAH PENGARUH JIRAN

Demikianlah, besarnya masalah jika mempunyai jiran yang buruk. Malah lebih bahaya, jiran mengetahui waktu kita berada di rumah dan tiada, jika mereka adalah buruk, mereka dengan mudah boleh merancang perkara jahat. Malah pelbagai tekanan tambahan boleh menimpa kita.

Tidak hairanlah nabi s.a.w amat menganjurkan kita berjiran dengan jiran yang baik. Dan yang lebih penting. KITA SENDIRI MENJADI JIRAN YANG BAIK terlebih dahulu, sebelum memikirkan baik buruknya jiran kita. Dengan cara itu, diharapkan semua keluarga mempunyai ‘mind set’ yang sama, iaitu menjadi jiran yang baik kepada jiran-jiran mereka. Hasilnya, sama-sama mendapat kerehatan dan kesejahteraan sewaktu berada di rumah.

Ada yang bergaduh kerana tanah, rumput, pokok bunga, pagar, bunyi, aliran air hujan dan sebagainya. Bukankah baik diselsaikan bersama dalam situasi ‘win-win’. Apalah untung untungnya memberi masalah kepada jiran selain menambah ‘stress’ kepada diri dan menyukarkan diri untuk meminta bantuan apabila terdapat hal kecemasan.. Lebih teruk, mendapat kemurkaan Allah dan azab pula menunggu.



Sekian



Zaharuddin Abd Rahman

www.zaharuddin.net

14 Januari 2011

The true spirit of the azan

Posted on Monday, January 17 @ 21:04:22 PST by Reformis
PendapatOleh Prof. Dr Mohd Tajuddin Mohd Rasdi

Let us be clear on the purpose of the adhan in its original form. According to the hadith (recording of the sayings and actions) of the Prophet Muhammad as documented by Sirah Ishaq:

“When the apostle was firmly settled in Medina and his brethren the emigrants were gathered to him and the affairs of the helpers were arranged, Islam became firmly established.

“Prayer was instituted, the alms tax and fasting were prescribed, legal punishments fixed, the forbidden and the permitted prescribed, and Islam took up its abode with them. It was this clan of the helpers who ‘have taken up their abode (in the city of the prophet) and in the faith’.

“When the apostle first came, the people gathered to him for prayer at the appointed times without being summoned. At first the apostle thought of using a trumpet like that of the Jews who used it to summon to prayer. Afterwards he disliked the idea and ordered a clapper to be made, so it was duly fashioned to be beaten when the Muslims should pray.

“Meanwhile ‘Abdullah b. Zayd b. Tha’laba b. ‘Abdu Rabbihi brother of B. al-Harith heard a voice in a dream, and came to the apostle saying: ‘(In my dream) There passed by me a man wearing two green garments carrying a clapper in his hand, and I asked him to sell it to me. When he asked me what I wanted it for I told him that it was to summon people to prayer, whereupon he offered to show me a better way: it was to say thrice ‘Allah Akbar. I bear witness that there is no God but Allah I bear witness that Muhammad is the apostle of God. Come to prayer. Come to Prayer. Come to divine service. Come to divine service. Allah Akbar. Allah Akbar. There is no God but Allah’.

“When the apostle was told of this he said that it was a true vision if God so willed it, and that he should go with Bilal and communicate it to him so that he might call to prayer thus, for he had a more penetrating voice. When Bilal acted as muezzin ‘Umar heard him in his house and came to the apostle dragging his cloak on the ground and saying that he had seen precisely the same vision. The apostle said, ‘God be praised for that!’”

The main purpose of the azan

It is clear in the hadith that the main purpose of the azan is to call Muslims for prayers at a single time because there was no idea of a mechanical device to tell exact time. The azan was also used to tell people to pray in their homes when there is a calamity or severe weather that makes going to the mosque a dangerous affair as in the following hadith:

“Once on a very cold and stormy night, Ibn Umar pronounced the azan for the prayer and then said ‘Pray in your homes’. He (Ibn Umar) added, ‘On very cold and rainy nights, Allah’s apostle used to order the muezzin to say ‘Pray in your homes’.”

The Malays of the Nusantara region had resorted to the use of the beduk (a tree trunk made hollow to echo the beats or a taboh which is a leather drum in mosques of old). The traditional Malay mosques of old never had a minaret but possessed the ‘rumah taboh’ or a low tower to house the drum.

In one sense, the Malays went against the Prophet’s order of a clapper or drum but because there were no Jewish or Christian tradition to be mistaken with then, the ijtihad of the drum was accepted. This shows that Islam is tolerant of the cultural contexts of the area.

Mosques in China have been found to echo the architecture of the temple form, once again showing the tolerance and magnanimity of Islam. In Spain, when Muslims were in power, there were many churches that were left intact. In Malaysia we see the presence of heritage temples and churches littering the country that proclaims the generosity of Islam.

But what of the antics of extreme Malay NGOs and Malay-based political parties? Burning effigies? Stepping on cow heads with the knowledge that the animal is considered sacred to certain citizens of this country? The Prophet never taught his followers to step on politicians’ pictures or burn effigies or desecrate holy objects of the major religions.

Only once did I find the Prophet’s anger related in this regard and manner, but note that it was in relation to the houses of Muslims who hear the azan but do not come for prayers. In a hadith cited by Bukhari:

Allah’s Apostle said, “By Him in Whose Hand my soul is, I was about to order the collecting of firewood, order someone to pronounce the Azan for the prayer, ask someone to lead the prayer, then I would go from behind and burn the houses of men who did not present themselves for the prayer.”

The issue of the azan is a simple one, but because of ignorance and a sense of cheap political strategies to drum up support, it has been blown out of proportion. The fact remains that in countries such as the US, the azan is not allowed to be pronounced because it is in a non-Muslim areas. Muslims still flock to the mosques because the azan is sounded within the compound only.

A tool of convenience

And even if there is no azan being called, the congregational prayers can still be performed validly. The narrations clearly stipulate that the azan is a tool of convenience and it is not a singular part of the prayer as prescribed to the Prophet and his nation on the Night of Ascension. The azan is not obligatory, though it is still considered important to be called out aloud.

Thus, the request by the non-Muslim lawyer to lower the sound is not a threat to the performance of prayers since everyone now can tell the time of prayers. Besides, in some Malay-dominated areas, the sound of the azan being called by many mosques sometimes creates confusion, to the point that the beauty in its call is jeopardised.

It is time that some kind of ruling about the decibel level of the azan be made in relation to the proximity of various mosques as well as taking into account whether the area is more populated by non-Muslims or not. It is a logical and simple request. And it was made in a letter to Putrajaya in a civil and respectful manner.

What of the answer of some Muslim Malays? Loud threats and burning of effigies! Why are Muslims angry at being labelled as extremists and terrorists by the Western media, when their actions speak volumes and show how the Western media are clearly ‘correct’ in their assessment. But Islam as taught by the Prophet shun these extremities.

I read with interest that a spokesperson of the government denied that the government had ordered the sound to be lowered. I also read in Harakahdaily that a PAS Youth leader condemned Putrajaya and the BN government for giving in to the request by the MCA lawyer.

To me, if the BN government did order the volume to be lowered then they would have acted within the true spirit of Islam as taught by the Prophet. But then, the government spokesmen had denied so.

I am completely surprised and taken aback by the PAS Youth’s condemnation of the alleged move to lower the sound. PAS had shown great magnanimity and true spirit of tolerance in the ‘Allah’ issue, the Teo Nie Ching Mosque issue, the ‘aerobics in the mosque compound’ issue, the church-burning issue, the cow-head incident, and many more.

But the PAS Youth leader has made PAS to be as bad as another Malay political party as well as Perkasa. I hope the senior leaders of PAS can quickly make a clear statement of magnanimity and generosity of Islam as shown in the other incidents.

We must take heed of what Imam Ghazali recorded in his Ihya Ulumuddin as follows:

“One night Said Al-Musayyab heard Umar Abdul Aziz reciting aloud the Qur’an in the Mosque of the Prophet. Said ordered his son to go to the person who was praying and tell him to lower his voice in recitation. His son replied that the mosque is a public place and that they had not a single right to it and furthermore, the man who was reciting was the Governor of Medinah.

“Said then called onto the reciter and said,” O you who is praying. If you desire that Allah The Most High accept your prayer, then lower your voice. If you desire that the people accept you, the people are only in need of Allah.” When Umar, the Governor of Medinah, heard this advice, he shortened his superragotary prayer and lowered his voice in recitation.”

How beautiful was the action of the governor who heeded the reminder of his subject without throwing a tantrum and proclaiming that one must listen and respect the Qur’anic recitation at all times. This is about one Muslim reminding a Muslim leader not to disturb people during their times of sleep.

Elements out to stir unrest

There are elements in this country out to use Islam in order to stir racial unrest. Of that fact it is very clear to me, an educated father of five. We Malaysians must protect the safety of our children from these elements of extremism at all costs.

Muslim parents and citizens of Malaysia must look long and hard at their religion as taught by the Prophet because some religious scholars and political leaders are clearly presenting Islam in a very negative sense to serve their own material agendas.

I beg also of all non-Muslim to be patient and ignore these extremist elements and continue to be civil in their discourse and discussion of Islam in the public arena.

As a Malaysian citizen who is a follower of Islam, I welcome civilised discussions and questions or even ‘complaints’ about my religion. Let us manage them maturely. Just as Malaysia is entering her adulthood, we also must not handle matters in the manner of little children throwing tantrums. The more so when there are childish adults who are out to capitalise on ignorance and suspicions.

———-
PROF DR MOHAMAD TAJUDDIN MOHAMAD RASDI is a 23-year veteran academic and teaches architecture at Universiti Teknologi Malaysia. He specialises in mosque and Islamic architecture particularly that which relates to Malaysia using a hadith-based and socio-cultural approach in order to create the total idea of built environment suited for a whole social structure. He is the author of ‘The Mosque as a Community Centre’ (1998).

JOM NGAJI

JOM HADIRI MAJLIS ILMU BERSAMA USTAZ HASMINUDDIN

MALAM INI (13 JANUARI 2011)

MASJID FELDA CHUPING PERLIS

KITAB BIDAYATUL HIDAYAH

KARANGAN HUJJATUL ISLAM IMAM AL GHAZALI

Tuesday, January 11, 2011

SALAM 2011




Salamualaikum warahmatullah.

Masih belum terlambat dirasakan untuk mengucapkan selamat tahun baru kepada semua. Semoga tahun baru yang telah 11 hari menjelma menjanjikan suatu yang terbaik buat diri kita semua.

Sempena tahun 2011 dan tahun baharu 1432H saya menyeru diri saya dan seluruh umat sekalian marilah kita kembali semula mengahyati konsep perhambaan kita kepada Allah dan konsep khalifah Allah di mukabumi yang fana ini.

Ramai yang masih lalai dan lupa bahawa kita merupakan hamba Allah yang tidak ada apa-apa. Walau Allah memberikan sedikit kebebasan namun ianya bukan mutlak dan akan ditanya olehNya. Perlu jawapan yang konkrit. Kita tidak bisa lari dari tanggungjawab sebagai hamba yang wajib dan mesti taat kepada walau dalam keadaan apa pun. Kita mesti siap sedia menerima segalanya dariNya. Hayati semua konsep Rukun Iman dan Rukun Islam agar konsep perhambaan direlisasikan dalam hidup kita.

Kita sebagai khalifah Allah yang diberikan amanah dan tanggungjawab juga dibebankan dengan kewajipan-kewajipan. Syeikh Hassan Al Al Banna pernah menyatakan : Kewajipan itu lebih banyak dari waktu. Khalifah bukan suatu jawatan. namun ianya sebagai amanah daripada Allah kepada ummah.

Khalifah Allah mestilah seorang yang baik. kenapa perlu baik sebab dia akan membawa manhaj Allah untuk diterjemahkan di alam fana' ini. Khalifah Allah juga mestilah menjadikan mereka yang bersamanya juga baik agar sama-sama bergandingan memakmurkan bumi Allah. Manusia sifatnya ialah merosakkan bumi dan menumpahkan darah telah dirakam dalam Surah Al Baqarah. Khalifah Allah juga perlu membentuk suasana yang baik. Suasana yang baik akan menyebabkan manusia merasa tenang dan bahagia walaupun ianya tidak kekal.

Justeru saudara dan saudarikan sekalian, ayuh realisasikan matlamat hamba Allah terbaik dan khalifah Allah terpilih dalam dirimu. Mulakan dengan dirimu nescaya tegaknya Islam dimuka bumi ini. Salam perjuangan dari saya.

Wassalam

Jom Selawat